Senin, 11 April 2011

kamat

           Dusun Kamat merupakan bagian dari wilayah desa Simpangyul kec tempilang kab. Bangka barat Prov. kepulauan Bangka Belitung. Berdiri pada tahun 1989 bertepatan dengan tahun kelahiran  penulis blogger ini. Sebelum menjadi dusun daerah ini disebut dengan petaling. Di mana kata petaling diambil dari du suku kata yakni  peta dan lingkungan yang maksudnya adalah  Peta lingkungan kekayaan alam yang melimpah ruah.
           Generasi awal dusun kamat merupakan kumpulan masyarakat kota tempilang yang  bercocok tanam didaerah tersebut. jika kita menelusuri masa-masa awal daerah ini hanyalah hutan rimba akan tetapi seiring perputaran waktu hingga pada tahun 1988 hampir 17  pondok kebun didirikan berdampingan. karena masyarakat pada waktu itu lebih menikmati hidup dipondok kebun maka msyarakatnyapun berinisiatif untuk tinggal dipetaling ini ketimbang hidup dikota yang jauh dari sumber penopang hidup. akan tetapi jika hari jum'at, hari raya islam dan hari besar nasional masyarakat ini kembali ke kota untuk berbaur dengan keluarga dikota untuk menghilangkan rasa jenuh yang jauh dari keramian.
            Masyarakat mengganggap untuk menyatukan mereka didaerah ini perlu dibuat satu tempat pertemuan untuk membahas segala persoalan yang akan terjadi nantinya. maka diadakan pertemuan khusus guna membahas apa yang musti dibangun yang sekiranya cocok dan pas bagi masyarakat petaling. Agar mereka mempunyai satu wadah untuk berkumpul dalam satu waktu tanpa adasekat pembatasnya. Pada waktu pertemuan atau rapat  ini dipimpin langsung oleh Pak Kamat karena beliau dianggap sebagai orang mempunyai kelebihan mendiagnosa segala permasalahan yang ada. sehingga apapun yang dikatakanya, mendapatkan respon positif dari warga setempat.
          Dalam rapat ini Berpuluh macam pendapat yang dilontarkan. namun dari sekian pendapat tersebut yang disepakati adalah pendapat dari pak kamat. dimana beliau berpendapat jika melihat kondisi yang terjadi pada waktu itu maka sarana yang perlu dibangun adalah tempat peribadatan rasionalisasinya adalah kalau tempat peribadatan yang dibuat maka tempat tersebut mempunyai multi fungsi misalnya : yang jelasnya solat berjamaah, mempererat tali silaturrahmi, tempat pengajian, ruang pertemuan rapat dan lain sebagainya.
        Dalam urusan pembuatan sarana peribadatan  ini langsung diserahkan pak kamat kepada arsitektur-arsitektur hebat sekelas dengan para arsitektur prancis yang mampu membuat menara eifel. yang dalam hal ini dipimpin langsung oleh Tetua kampung kami Alm luseu dan alm nyu'. coba kau perhatiakan dua nama arsitektur tersebut dengan seksama, pasti yang ada dibenak anda-anda semuanya adalah seorang transmigran asal china tentunya. padahal mereka adalah putra daerah terbaik yang pernah dimiliki oleh Desa penyampak. sekedar informasi untukmu kawan kepok itu adalah sebutan untuk sebuah pemukiman, jika disebut sebagai dusun belum layak karen mereka tidak menginduk kepada desa manapun akan tetapi jika dinamakan perkebunan juga tidak layak sobat karen didaerah yang dibangun pondok kebun sudah lebih maju. hal ini bisa kita dilihat dari segi pembangunan infrastruktur dan  SDM nya.
       Masyarakat  kepok petaling ini dahulu menyekolahkan anaknya ke kota-kota. walaupun jarak tempuh dari kepok ke kota ini membutuhkan 1 jam perjalanan namun tidak pernah menyurutkan niat para generasi kepok untuk maju dan berkiprah didunia pendidikan. dari segelintir orang yang ada dikepok hanya berapa orang yang ikut berproses disekolah. Survei membuktikan dari kepok hingga sekarang menjadi dusun yang dalam hitungan waktu hampir 23  tahun di kampung kamat ini belum ada yang tamat sarjana setara ( S1) apalagi master.
           Hal tersebut Berbalik dari kenyataan yang terjadi dipusat kota RI. Di mana sarjananya berlimpah ruah banyaknya. walaupun demikian lantas tidak membuat mereka merasa terasingkan dari dunianya. coba tebak apa yang dikatakan mereka sobat. dari survei yang pernah dilakukan perkataan yang sering dilotarkan para pemudanya adalah ngapain sekolah tinggi-tinggi kalau ahirnya jadi penggangguran, koruptor, pemalak, penindas, dan lain sebagainya. pertanyaan mereka dimana ilmu yang pernah mereka pelajari selama ini dan apakah selama ini emang diajarkan untuk menjadi orang-orang yang bisanya selalu nyusahin orang lain. kami disini bukan pemalas tukas mereka dan pecundang negara yang tidak punya kemampuan. kami mempunyai keahlian buktinya kami mampu berkebun dan kami tidak minta jatah jajan atau lain sebagainya kepada orang tua dan tidak pernah nyusahin orang lain begitulah ungkapan yang sering mereka lontarkan jika ada orang yang menyuruh atau mengajak para pemudanya untuk bersekolah.
       Seperti yang selalu mereka dendangkan bahwa kehidupan disekolah itu tidak menyenangkan yang selalu mereka kutip adalah senjata andalan dari pemikiran paulo preire dalam bukunya politik pendidikan : Guru mengajar, murid belajar. guru tahu segalanya, murid tidak tahu apa-apa. guru berpikir, murid dipikirkan. guru bicara, murid mendengarkan. guru mengatur, murid diatur. guru memilih dan memaksakan pilihanya, murid menuruti dan seterusnya baca aja kawan di halaman Xi.
      Para generasi kepok kamat ini juga sering mendendangkan katanya disekolah sekarang ini menurut salah satu penelitian orang barat yang mereka kutif dari salah satu tulisan prof Ng Aik kwang asal australia dalam salah satu situs internet :pendidikan Asia ini menurut penelitian orang barat tersebut : Bagi kebanyakan org Asia, dlm budaya mereka, ukuran sukses dalam hidup adalah banyaknya materi yang dimiliki (rumah, mobil, uang dan harta lain).Bagi org Asia, pendidikan identik dengan hafalan berbasis "kunci jawaban" bukan pada pengertian. Ujian Nasional, tes masuk PT dll semua berbasis hafalan. Karena berbasis hafalan, murid2 di sekolah di Asia dijejali sebanyak mungkin pelajaran.Karena berbasis hafalan, banyak pelajar Asia bisa jadi juara Olimpiade Matematika, Fisika, bukan pemenang Nobel yg berbasis kreatifitas dan inovatif.Orang Asia takut salah (KIASI) dan takut kalah (KIASU). Akibatnya sifat eksploratif sebagi upaya memenuhi rasa penasaran dan keberanian untuk mengambil resiko kurang dihargai.Bagi keanyakan bangsa Asia, bertanya artinya bodoh, makanya rasa penasaran tidak mendapat tempat dalam proses pendidikan di sekolah.Karena takut salah dan takut dianggap bodoh, di sekolah atau dalam seminar atau workshop, peserta jarang mau bertanya tetapi stlh sesi berakhir peserta mengerumuni guru / narasumber utk minta penjelasan tambahan. (kadang kl guru kurang begitu peduli, krn merasa jam kerjanya sdh selesai). kalau itu penelitian diasia berarti indonesia juga termasuk dunk.
        Para generasi kampong petaling (kamat) ini walaupun tidak sekolah tapi perlu kau ketahui mereka mengerti kawan tentang sekolah. dari mana mereka mengetahui hal itu tentunya perlu penelitian lebih lanjut.


Selayang pandang jika kau membaca maka kau akan mengetahui teruslah membaca dan berproses kawan jangan kau bersedih tapi renungkanlah apa yang dikatakan oleh pemuda-pemuda kampung q itu.
 

2 komentar:

  1. ide pokok e mulai mucul...sekedar masukan...tulisan ne kurang detail lum pacak menggambarkan wilayah a secara utuh.. dak semua orang kenal simpang yul tapi kalau pangkal pinang, mentok sungailiat pasti mereka kenal. mulailah mendeskripsikan a..misal terletan dibagian pelosok pulau bangka, anda bisa menghabiskan waktu berjam-jam menumpuh perjalan menuju dusun kamat ini. datail lagi.dusun ini dihuni tidak lebih dari 100 orang, dengan panjangnya kurang lebih 500 m, sehingga jika anda berjalan kaki saya jamin kaki anda tidak akan terasa capek. karena temanya judulnya dusun kamat, maka harus dibagi-bagi beberapa sub bab..bisa sejarah dusun. pendidikannya..religiusitasnya..sosial politik dan budayanya..perekonomiannya...maka saya yakin orang dikutup utarapun akan menemukan gambara dusun anda ini.

    BalasHapus
  2. oke trimakasih kawan atas masukannya. saya sangat bahagia tulisan yang tidak mempunyai pemikiran jelas ini mendapatkan masukan dan paling tidak sudah dibaca oleh satu orang.

    BalasHapus