ketidak jelasan, dimulai dengan asal-asalan dan ahirnya menjadi bingung”
“Demokrasi indonesia dibajak”
Ketika kita berbicara tentang “demokrasi indonesia dibajak” maka perlu diperjelas lagi apa itu demokrasi, dan demokrasi yang mana dibajak, dan siapa yang membajaknya ?. Setelah semuanya itu jelas kemudian baru saya akan menelusuri polemik yang terjadi dan persoalan apa yang inggin di telusuri bahasan dalam tulisan ini .
Demokrasi seingat saya adalah pemerintahan dari rakyat, oleh rakyat dan untuk rakyat. Namun demokrasi yang demikian saya rasa hanya ada dalam definisi, akan tetapi dalam kenyataannya jauh berseberangan dari nilai demokrasi yang dimaksud, yang tersirat dalam makna demokrasi untuk rakyat. melainkan dari kelompok kepenting diubah seperti dari rakayat oleh rakayat untuk tak jelas. Dalam hal ini konteksnya adalah indonesia.
Demokrasi mana yang dibajak, untuk menelusuri pembajakan demokrasi ini saya akan melihat tentang demokrasi yang terjadi selama ini. Dengan mengawali denagan definisi demokrasi “dari rakyat” yakni sebuah jalan perintis atau alat penampung aspirasi yakni partai politik. Yang bersaing untuk menjadi pemimpin rakyat yang dipilih oleh rakyat. jika kita melihat pemimpin partai politik, pernahkah anda berpikir siapa yang memimpin. Dari hal ini kita bisa melihat siapa sebenanya yang membajak demokrasi indonesia. Aspirasi rakyat yang pada pemilihan presiden kemaren dapat kita lihat persentase berapa rakyat yang memilih dan berapa yrakyat yang tidak memilih. sebenarnya mengapa rakyat tidak mau memilih jangan-jangan pemimpin yang dicalonkan bukan yang mereka harapkan terus siapa yang mereka harapkan dan mengapa yang mereka harapkan tidak dapat menjadi calon pemimpin yang dipilih lewat pemilu.
Demokrasi indonesia ini adalah demokrasi yang diadopsi dari dunia Barat yang dibangun atas dasar rasionalitas, dan humanis. Ternyata dari demokrasi ini melahirkan kelompok-kelompok kepentingan yang menonjol baik secara ekonomi maupun sosial. Demokrasi pun dijadikan sistem agar aspirasi kelompok-kelompok ini bisa tersalurkan melalui keterwakilan yang mereka rancang untuk mewakili mereka. Para kelompok-kelompok kepentingan inilah yang membiayai kampanye untuk calon wakilnya. Supaya kelak jika terpilih, wakilnya itu bisa melindungi kepentingannya.
Demokrasi kita seakan diukur hanya dengan pemilihan umum dari rakyat namun tidak pernah melihat bagaimana pemilu ini dilaksanakan.
Tanpa sadar ternyata demokrasi kita telah dibajak dan yang membajaknya adalah para pemimpin kita sendiri. Coba kita lihat yang menjadi pemimpin hari ini mereka adalah para kaum tua yang selalu mendominasi dalam kata lainnya yang kemaren berkuasa sekarangpun menjadi penguasa sampai mereka dijemput ajalnya oleh malaikat maut. Yang menjadi pemimpin hanya orang-orang itu saja.
Dimana letak keberadaan demokrasi bangsa indonesia saat ini. Seakan menjadi dilema tersendiri dipara mahasiswa yang mengerti akan keadaan bangsa indonesia. Bagaimana rakyat indonesia bisa sejahtera kalau negera indonesa hanya dipimpin oleh orang-orang itu saja yang hanya memikirkan kepentingan dirinya beserta kelompoknya tampa mementingkan kepentingan rakyat yang semakin hari semakin nlangsa keadaan rakyatnya. Yang berkuasa tambah sejahtera dan rakyat semakin hari semakin menderita. Tidak jarang alasan mereka mengatakan bahwa kami memimpin adalah untuk kepentingan rakyat. namun kemudian timbul pertanyaan rakyat yang mana yang dimaksud ?.
Para pemuda generasi penerus bangsa seakan terhegemoni dari tempat-tempat yang terpenting dalam jabatan kedudukan negara. Hanya beberapa orang saja dari pemuda yang mampu menempati kedudukan tersebut. Namun yang lainnya hanya bisa jadi penonton dan menjadi ekor.
Pemimpin kita hari ini adalah para pebisnis ulung yang menjadikan kekuasaannya ladang perbisnisan dimana harta kekayaan negara atau aset gemah rifah loh jinawi dijadikan satu ladang arena bisnis dengan negara asing, tampa mendengarkan keluhan masyarakat, tanpa mau tau penderitaan masyrakat.
Semakin hari perekonomian indonesia dikalangan masyarakat menegah kebawah semakin jauh terprosokkedalam keterpurukan.sedangkan para orang elit di negeri ini semakin membengkak hartanya, harta disimpan dan ditimbun untuk kepentingan keluarganya dimasa mendatang. Dari yang berkuasa leh rakyat untuk berkuasa. Sebagai negara yang berkembang tampuk kekuasaan negera ini ternyata teteap dipegang oleh pemilik modal yang lebih besar, seakan indonesia dipaksan oleh dengan sistem yang mereka buat untuk terus berkembang katanya menuju indonesia lebih baik lagi tapi kenyataan yang kita rasakan dan fakta yang ada dapat anda simpulkan sendiri.
Alangkah lucunya negeri ini, para pemuda seperti saya pun enggan untuk membicarakan persoalan politik ekonomi yang terjadi di indonesia ini, seakan saya di tidurkan dari kiprah seorang mahasiswa yang seharusnya menjadi pejuang untuk rakyat. pendidikanpun sudah disetir oleh orang yang tidak jelas sehingga menghasilkan para sarjana yang tunduk dan patuh pada kebijakan pemimpin yang ada. Kebijakan-kebijakan tentang pendidikanpun sudah di rancang sedemikian rupa sehingga para mahasiswa menjadi mahluk apatais atas persoalan yang terjadi karena persoalan individu yang dihadapi di perguruan tinggi yang menuntutnya untuk tetap selalu berada di bangku kuliah. Bagaimana mau memimkrkan nasib orang lain nasib sendiripun tidak bisa diselamatkan, saya sibuk memikirkan urusan saya sendiri tentang kuliah. Masuk minimal harus 75 %, ruang gerak untuk berdiskusipun dibatasi. Kibajakan para pemimpin tentang pendidikan ini menciptakan para mahasiswa yang meninak bobokan para mahasiswanya agar para mahaisiswa tidak menjadi musuh bagi mereka, dan menjadi orang-orang liar yang susah diatur. Mahasiswapun tidak mau lagi memikirkan persoalan yang terjadi padahal roda demorasi yang sedang berlangsung ini akan menyingkirkan dirinya sendiri sewaktu akan berkembang nantinya.
Terlepas dari pada itu semua ternyata demokrasi indonesia telah dibajak, para kelompok-kelompok kepentingan berkonspirasi membodohi warga negaranya untuk memilih calon pemimpin yang mereka ajukan.
Pembajakan demokrasi indonesia ini terjadi karena lemahnya ekonomi dikalangan masyrakat kelan menegah kebawah dan lemahnya SDM. Pengetahuan yang dimiliki dijadikan alat untuk berkuasa bukan untuk melakukan perbaikan. para pemilik modal besar yang sudah mempuni karena telah lebih dahulu memiliki peranan menjadi pemimpin.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar